Mahasiswa Jerman Peduli Pendidikan Banyuwangi

Sabtu, 26 Mei 2007
RADAR BANYUWANGI

Kumpulkan Uang Saku, Membantu Siswa Tak Mampu
Lima warga Jeman berkunjung ke SDN Pengantigan, Kecamatan Banyuwangi dan SDN 2 Macan Putih, Kecamatan Kabat. Mereka memberi bantuan paket seragam kepada seratus siswa kurang mampu.

SYAMSUL ARIFIN, Banyuwangi

Rombongan mahasiswa dari Jerman tiba di Banyuwangi pukul 16.00 kamis sore lalu. Rombongan itu dipimpin Laura Marie Shons. Dia didampingi Jens Fischer, Patrik Behl, Christine Trapkom dan Robin Schwiderski.

Sebelumnya, mereka menempuh perjalanan darat selama enam jam dari Denpasar, Bali menuju Banyuwangi. Memang, selama ini para mahasiswa itu menuntut ilmu di Universitas Udayana Bali. Begitu tiba di Kota Gandrung, mereka sempat menginap di salah satu hotel di Banyuwangi. Baru pagi kemarin, mereka meluncur ke sekolah tujuan."Saya datang ke sini dan teman-teman ingin berbagi rasa dengan warga Banyuwangi. Kami ingin tahu lebih banyak tentang pendidikan di Indonesia," ujar Laura saat bertamu di kantor redaksi Radar Banyuwangi.

Sasaran kunjungan dimulai di SDN Pengantigan, Kecamatan Banyuwangi. Laura dkk. diterima oleh kepala sekolah setempat Sinta Puji Astutik, para guru dan pengurus yang lain. Di sekolah yang memiliki 128 siswa itu, mereka menyumbang paket bantuan seragam sekolah. Bantuan itu diberikan pada 50 orang siswa kurang mampu. "Bantuan ini kami himpun sendiri dan kami ambil dari uang saku kami sendiri," tambah perempuan yang sudah lima tahun menetap di Bali itu.

Usai menyerahkan paket bantuan, mereka tidak langsung pergi. Lima mahasiswa bule itu justru memberi kesempatan pada para siswa untuk bertanya. "Bu kok hanya pakaian yang disumbangkan, apa tidak ada bantuan sepatu ?" tanya seorang siswa.

Pertanyaan lugu itu pun membuat para mahasiswa jerman itu tersenyum. "Nanti lain waktu, saya kembali lagi. Mudah-mudahan, apa yang adik-adik inginkan akan terkabul," janji perempuan yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Para mahasiswa Jerman itu terus melayani permintaan dialog para siswa. Bahkan saat ditantang bertanding sepak bola, Laura dkk langsung setuju. "Ayo kita main bola. Saya siap," tegas Roben.

Adegan langka pun terjadi. Roben dan kawan-kawan bermain sepak bola melawan sekitar 40 siswa SD. Mereka berkejaran dan berebut bola. Adegan yang berlangsung sekitar 15 menit itu spontan mengocok perut para guru sekolah itu. "Tante Laura kok ikut main bola. Biasanya, perempuan tidak main bola di sini. Tapi main boneka," tutur seorang siswa dengan polosnya.

Puas berkunjung di SDN Pengatigan, rombongan mahasiswa Jerman itu berangkat menuju SDN 2 Macan Putih, Kecamatan Kabat. Setelah menyusuri kawasan perbukitan, Toyota Kijang yang mereka tumpang di Macan Putih sekitar pukul 10.30. Di sekolah itu, mereka diterima oleh Kepala SDN 2 Macan Putih, Suyitno. "Jangan malu malu, silakan duduk," sambut Suyitno.

Laura dkk juga memberi bantuan 50 paket seragam sekolah di sekolah itu. Mereka juga sempat bermain bola dan makan bersama dengan menu khas nasi pecel. Namun saat diajak melihat ruang kelas, Laura terperanjat. Sebab, plafon beberapa ruang kelas tersebut berlubang dan rusak parah. "Apa pemerintah tidak pernah memberi bantuan pada sekolah ini," tanya Laura.

Kasek Suyitno mengaku, pihaknya sudah sering mengirimkan proposal kepada pemerintah. "Tapi belum ada tindaklanjutnya," ujar Suyitno berterus terang.

Laura mengaku prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia khususnya di Banyuwangi. Karenanya, mereka berjanji sekuat tenaga akan menggalang dana untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan di Banyuwangi. "Tidak hanya pakaian sekolah. Kami kami merencanakan untuk mengumpulkan alat peraga, infrastruktur, dan perangkat yang lain. Kami akan coba carikan jalan keluarnya," pungkasnya saat pamit untuk mampir ke Gunung Ijen sebelum pulang ke Denpasar, Bali.